dunia motivasi

Ludah Dibalas Dengan Doa Yang Indah

Calcuta adalah kota kumuh dengan gelandangan dan pengemis menjadi pemandangan sehari-hari. Di kota itu Bunda Teresa berkarya dan telah menjadi semacam tanda kehadiran Sang Pencipta, yang peduli dan tanpa risih merangkul dan menyantuni si miskin dan terlantar. Biarawati kerempeng yang membaktikan seluruh hidupnya untuk orang-orang yang paling menderita itu, kini menjadi semcam standar ukuran kualitas yang bisa dicapai oleh setiap manusia dalam hal kebaikan hati, kasih dan bela rasa terhadap sesamanya. Dunia merasa berhutang dan memahkotai beliau dengan Hadiah Nobel.

Tak tahan melihat begitu banyak orang kelaparan, pada suatu hari Bunda Teresa mendatangi sebuah toko roti, dan dengan segala kesopanan memohon kepada si empunya toko, “Tuan, seandainya ada roti sisa yang tidak terjual sore ini, bolehkah saya memintanya untuk orang-orang yang kelaparan di luar sana?”

Bukan roti yang ia terima, melainkan sumpah serapah dan ludah pemilik toko itu berlepotan di wajahnya. Walau kaget dengan reaksi tersebut, Bunda Teresa tidak kehilangan kesabarannya. Diusapnya wajahnya dengan tangannya, dan sambil mengulurkan tangan dia berucap, “Tuan, ludah ini untuk saya, tetapi roti yang saya minta itu untuk orang-orang yang kelaparan di luar sana.”

Sementara pemilik toko masih ngedumel dengan kata-kata dan sikap kasarnya, pengikut Bunda Teresa kehilangan pengendalian diri mereka. Mereka hendak melabrak pemilik toko itu, ketika Bunda Teresa justru mengajak mereka berdoa.

Bunda Teresa mulai berlutut di lantai dan memanjatkan permohonan, “Ya Tuhan yang Maha Pemurah dan Maha Kasih, sudilah kiranya Engkau menganugerahkan berkah melimpah kepada bapak ini beserta seluruh anggota keluarganya. Semoga mereka sehat dan sejahtera. Hindarkanlah mereka dari kelaparan yang kini diderita oleh begitu banyak orang di luar sana. Engkaulah pencipta dan pemelihara alam semesta, dengarkanlah doa hambamu ini. Amin.”

Baca Juga:  Polisi Pukul Polisi Militer di Palembang Miliki Gangguan Jiwa

Bunda Teresa segera pamit dan meninggalkan toko itu. Keajaiban pun terjadi. Keesokan harinya berita mengenai peristiwa yang baru lalu itu menyebar ke sudut-sudut kota. Yang menyebarkan tiada lain adalah si pemilik toko itu, yang luluh hatinya karena imbalan doa yang ia terima dari Bunda Teresa atas caci maki dan ludahnya. Kemarin ia menolak permintaan atas roti yang mungkin akan basi karena tak laku sore itu, tetapi kini ia pula-lah yang memasuki sekian banyak toko roti, menemui pemiliknya, menceritakan kepada para pemilik toko roti itu mengenai permintaan Bunda Teresa dan perlakuannya terhadap biarawati itu.

Selebihnya, bayangkanlah keajaibannya : pada hari itu tersedia bukan roti basi, tetapi roti hangat yang baru saja keluar dari oven, jumlahnya berkeranjang, siap disumbangkan untuk orang-orang yang kelaparan.

Bunda Teresa menemukan moment of truth-nya, begitu juga pemilik toko yang meludahinya. Keduanya bersikap tepat ketika menghadapi momen penting itu, dan dunia menjadi lebih indah karenanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *